# selamat datang di blog PC IPNU - IPPNU Kota Pekalongan, silahkan isi buku tamu dan tinggalkan komentar #
Senin, 21 November 2016

Ketika Santri Ditilang Polisi

Seorang santri—sebut saja Mukidi—siang itu betul-betul apes. Niat mulianya untuk menjemput kiainya yang mengisi pengajian di kecamatan sebelah terhalang oleh razia polisi bermuka garang.

“Kamu saya tilang.”

Mukidi ngowoh. Tak tahu di mana letak kesalahannya. “Tapi, Pak. Ini bukan motor saya. Ini punya Pak Kiai.”

“Hmmmm… Kalau gitu kita ‘damai’ saja. Berapa duit yang kamu punya?”

“Wah, pakai sarung gini, mana mungkin saya bawa dompet, Pak. Kalau rokok gimana?”

“Ya udah, boleh. Enggak apa-apa.”

Mukidi menegakkan standar motor lalu pergi ke warung tak jauh dari lokasi. Kepada pemilik warung, Mukidi memesan tiga bungkus rokok dan mengatakan bahwa yang bayar nanti adalah polisi di seberang jalan.

Si penjual rokok tak langsung percaya. “Beneran?”

Mukidi pun berteriak sambil melambai-lambaikan tiga bungkus keretek itu, “Pak, benar ini, kan?”

Pak polisi mengacungkan jempol, tanda bahwa ia setuju. Pemilik warung pun percaya.

Mukidi menyerahkan tiga bungkus rokok kepada polisi dan meluncur kembali menjemput Pak Kiai. Memang agak telat, tapi alhamdulillah semua urusan beres. Yang belum beres adalah urusan polisi dengan pemilik warung. (NU Online)
Judul: Ketika Santri Ditilang Polisi; Ditulis oleh IPNU Pekalongan; Rating Blog: 5 dari 5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar